Sumba Barat,Likurai.com- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt mendorong pemanfaat Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan melalui bank himbara seperti BNI, BRI, Mandiri dan BTN serta bank daerah yakni Bank NTT untuk membangun ekonomi masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
Hal ini disampaikan dalam arahannya saat pertemuan bersama para pemangku kepentingan Kabupaten Sumba Barat, dengan tema Pengembangan Ekonomi Kerakyatan untuk Menanggulangi Kemiskinan dan Stunting yang digelar Minggu, 15 Maret 2026 di Aula Kantor Bupati Sumba Barat.
“KUR adalah salah satu pola untuk menggerakan ekonomi rakyat melalui perbankan. Melalui KUR kita bisa membentuk usaha produktif,” ujarnya.
Dijelaskan Gubernur, usaha tersebut dapat dikembangkan lewat One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP).
”Tiga kaki” ini akan menopang NTT Mart. Sumba Barat sebagai induk dari Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah harus lebih maju dan juga di Kabupaten/Kota se NTT.
Skema KUR dari bank himbara terutama Bank NTT di tahun 2026, harus terintegrasi dengan OVOP, OSOP, dan OSOP disesuaikan dengan ketentuan penyaluran KUR dan akan dievaluasi pelaksanaanya.
Selain itu Gubernur juga mengatakan menurut Badan Pusat Statistik NTT data kemiskinan di NTT pada September 2024 berada di angka 19,02 persen dari total penduduk saat itu. Pada September 2025 turun menjadi 17,5 persen. Artinya terjadi penurunan sebesar 1,52 persen.
Penurunan ini justru terjadi saat pemerintah pusat melakukan efisiensi dana transfer daerah. Berkaca dari pengalaman ini, Gubernur meminta Ketua Tim Pendataan dan Penanggulangan Kemiskinan Terpadu, Johny E. Ataupah untuk percepatan penyelesaian data kemiskinan agar bantuan yang diberikan pemerintah tepat sasaran.
“Program ini akan menjadi lebih bagus kalau Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah Kabupaten Sumba Barat terhubung dengan baik bahkan seluruh Kabupaten/Kota se NTT,” imbuhnya.
Bupati Sumba Barat, Yohanes Dade, S.H. mengatakan kemiskinan dan stunting masih menjadi tantangan yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Untuk itu Pemda Sumba Barat menempuh beberapa langkah strategis diantaranya melakukan intervensi terhadap sasaran bermasalah gizi, memastikan agar semua sumber daya dialokasikan untuk mendukung dan membiayai kegiatan–kegiatan prioritas, memastikan semua pihak di semua tingkatan dapat bekerja sama untuk mempercepat pencegahan stunting, melibatkan sektor terkait seperti akademisi dan organisasi profesi, dunia usaha/swasta, dan mitra pembangunan/LSM serta mengalokasikan anggaran dalam APBD Tahun Anggaran 2025/2026 untuk penanganan stunting.
Ia menambahkan kemiskinan ekstrem mengalami penurunan yang kosisten “Berdasarkan data perkembangan beberapa tahun terakhir, persentase penduduk miskin di Kabupaten Sumba Barat menunjukkan tren penurunan yang cukup konsisten. Secara keseluruhan, dalam periode 2021–2025 terjadi penurunan tingkat kemiskinan sebesar 1,92 persen,” jelasnya.
Disamping dua permasalahan tersebut, Pemda Sumba Barat mendorong perekonomian masyrakat melalui bidang pariwisata khususnya di event-event budaya yang digelar melibatkan UMKM dan IKM. Lewat usaha ini berhasil meningkatkan PAD.
“Selain itu, kehadiran NTT Mart di Kabupaten Sumba Barat sebagai salah satu langkah strategis pemerintah daerah yang akan memacu peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya UMKM/IKM di Kabupaten Sumba Barat. Melalui program ini, produk–produk lokal hasil karya masyarakat dapat dipasarkan,” ucapnya.
Bupati juga mengapresiasi kehadiran Gubernur beserta tim percepatan memberikan dorongan, bagi warga Sumba Barat untuk terlibat dalam pengembangan ekonomi kerakyatan.
Untuk diketahui, setelah selesai pelaksanaan pertemuan bersama Para Pemangku kepentingan, Gubernur bersama rombongan menyempatkan waktu berbelanja di NTT Mart by Dekranasda Sumba Barat. (Humas Biro AP/Yuser)
