Kabupaten Kupang,Likurai.com – Yayasan Heart for Timor (Kasih untuk Timor) menyelenggarakan gerakan kemanusiaan bertajuk One Heart for Timor sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi anak-anak dan keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan ini merupakan hasil persiapan intensif selama kurang lebih empat bulan, dengan tujuan menjangkau anak-anak di wilayah Timor yang dinilai membutuhkan perhatian serius, baik dari sisi psikologis, sosial, maupun spiritual.
Program One Heart for Timor menyasar sejumlah wilayah di Kabupaten Kupang, antara lain Amarasi Timur, Amfoang Selatan, Amfoang Tengah, Amfoang Utara, dan Amfoang Timur.
Selain itu, kegiatan juga diperluas ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mencakup Amanatun Utara, Toiana, Amanuban, Amanatun Selatan, Kuanfatu, Molo, dan Siso.
Sebanyak 13.500 anak bersama orang tua mereka telah didata untuk dilayani dalam program ini.
Berbagai kegiatan dilaksanakan, mulai dari edukasi parenting bagi orang tua, pembinaan iman bagi anak usia dini hingga kelas 2 SD melalui kegiatan “sekolah minggu”, hingga pemberian motivasi pendidikan bagi siswa kelas 3 sampai 6 SD.
Selain pendekatan edukatif, kegiatan ini juga menekankan aspek spiritual dan emosional melalui rekonsiliasi, doa bersama, penumpangan tangan, serta pemberkatan oleh para rohaniwan.
Pendekatan ini diharapkan mampu memulihkan luka batin serta membangun kembali harapan dalam diri anak-anak dan keluarga.
Ketua Yayasan Heart for Timor, Helen Anthonius, mengatakan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya kasus bunuh diri di NTT yang kini juga menyasar anak-anak.
“Gerakan ini adalah panggilan hati. Kami ingin menghadirkan kasih, perhatian, dan harapan bagi anak-anak yang mungkin selama ini merasa sendiri. Pertanyaannya, sudahkah kita sungguh hadir bagi mereka?” ujarnya.
Ia menambahkan, keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan kesehatan mental anak.
“Jika anak-anak tidak mendapatkan cinta dan perhatian di rumah, lalu ke mana mereka akan mencari harapan? Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegas Helen.
Sementara itu, Penanggung Jawab kegiatan, RD. Fariz Paut, menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam menyelesaikan persoalan ini.
“Apakah pembangunan yang kita lakukan sudah benar-benar menyentuh kehidupan anak-anak di pelosok? Atau kita masih terjebak pada pembangunan fisik semata? Ini yang perlu kita refleksikan bersama,” ungkapnya.
Kegiatan One Heart for Timor berlangsung selama 10 hari, mulai 7 hingga 17 April 2026. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menekan angka bunuh diri sekaligus membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi muda di NTT.
Dalam kesempatan tersebut, Yayasan Heart for Timor juga menyampaikan sejumlah harapan kepada pemerintah. Mereka mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap sektor pendidikan, namun berharap agar sekolah-sekolah di daerah terpencil tetap mendapat perhatian yang memadai.
Selain itu, yayasan juga menyoroti belum meratanya implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah pedalaman seperti Amarasi Timur dan Amfoang Timur.
Kepada jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), yayasan berharap pembangunan dapat dilakukan secara merata hingga ke daerah terpencil. Kondisi infrastruktur jalan di Amarasi Timur dan kawasan Amfoang Raya yang rusak berat dinilai menjadi hambatan serius bagi akses pendidikan dan pelayanan dasar.
Di sisi lain, kesejahteraan tenaga pendidik juga menjadi perhatian. Masih adanya guru yang menerima gaji sekitar Rp500.000 per bulan dinilai sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Melalui gerakan ini, Yayasan Heart for Timor mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu, menghadirkan kasih, serta menjadi bagian dari solusi dalam menjaga dan menyelamatkan generasi penerus bangsa di NTT. (*/Yuser)
