Kupang, Likurai.com – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja (Satker) Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (SDA) Nusa Tenggara II membangun hanggar penyimpanan alat berat di dua lokasi strategis di Kota Kupang.
Dua lokasi tersebut masing-masing berada di halaman Satker Air Tanah dan Air Baku (ATAB) serta di area penyimpanan alat berat milik BBWS Nusa Tenggara II di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Kupang.
Pembangunan hanggar beserta penataan area penyimpanan alat berat di dua lokasi tersebut menelan anggaran sebesar Rp1,5 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pemanfaatan Irigasi Air Tanah (PIAT) Nusa Tenggara II, Ghozali Mahmud, ST., MT, menjelaskan bahwa hanggar yang dibangun di kawasan Satker ATAB memiliki ukuran 20 x 60 meter.
Menurutnya, pembangunan fasilitas ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan sekaligus pengelolaan peralatan, khususnya alat berat milik BBWS Nusa Tenggara II.
“Hanggar ini dibangun untuk mengamankan dan menjaga kondisi alat berat agar tetap optimal dalam mendukung operasional di lapangan,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa alat berat yang akan ditempatkan di hanggar tersebut saat ini tersimpan di lokasi beberapa satuan kerja, antara lain Satker Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Nusa Tenggara II, di halaman Satker Bendungan, serta Satker ATAB.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan pembangunan hanggar dapat rampung pada tahun ini sehingga segera dimanfaatkan untuk penataan dan pengamanan alat berat. Saat ini, proses pembangunan telah berjalan dengan tahap pengadaan material utama berupa pelat baja.
“Pembangunan hanggar ini sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 2025, namun sempat tertunda karena anggaran masih diblokir. Setelah anggaran tersedia, pelaksanaan baru dapat dimulai tahun ini,” jelasnya.
Dengan adanya hanggar tersebut, diharapkan pengelolaan dan pemeliharaan alat berat dapat dilakukan secara lebih terpusat, aman, dan efisien. Hal ini sekaligus mendukung kelancaran pelaksanaan program pembangunan serta pengelolaan sumber daya air di wilayah Nusa Tenggara Timur. (Yulius)
