Kupang, Likurai.com – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur melalui PPK 2.5 Provinsi NTT pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Provinsi NTT mulai mempercepat penanganan tiga paket longsoran di ruas jalan Sabuk Merah Sektor Timur yang selama ini menjadi salah satu jalur strategis di wilayah perbatasan timur NTT.
Upaya percepatan penanganan dilakukan pada Tahun Anggaran 2026 guna menjaga konektivitas jalan nasional sekaligus mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Hal tersebut disampaikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.5 Provinsi NTT, Ir. Roberto, kepada wartawan Likurai.com, Senin (4/5/2026).
Roberto menjelaskan, paket pertama yang ditangani yakni penanganan longsoran ruas Sadi–Haekesak dengan nilai anggaran sebesar Rp25 miliar. Hingga saat ini, progres fisik pekerjaan telah mencapai 7,7 persen.
Sementara itu, penanganan longsoran ruas Haekesak–Nyalain–Henes dengan nilai anggaran Rp14 miliar telah mencatat realisasi fisik sebesar 7 persen.
Adapun pekerjaan penanganan longsoran di ruas Henes–Motamasin dengan nilai kontrak Rp9,8 miliar menunjukkan progres fisik sebesar 10,34 persen dari rencana 10,18 persen atau mengalami deviasi positif sebesar 0,08 persen.
Meski progres pekerjaan terus berjalan, Roberto mengakui secara umum capaian fisik masih relatif kecil.
Hal tersebut dipengaruhi kondisi lapangan yang mengalami perubahan cukup signifikan pasca musim hujan sehingga perlu dilakukan review desain ulang pada seluruh paket pekerjaan.
“Seluruh paket longsoran saat ini sedang dilakukan review desain karena kondisi lapangan berubah cukup signifikan setelah musim hujan. Longsoran menjadi semakin lebar dan dalam sehingga perlu penyesuaian teknis sebelum pekerjaan dilanjutkan secara optimal,” jelas Roberto.
Selain perubahan kondisi medan, tingginya intensitas hujan di sejumlah lokasi juga turut mempengaruhi percepatan pekerjaan di lapangan. Bahkan, beberapa titik longsor berada di kawasan daerah aliran sungai (DAS) sehingga pekerjaan baru dapat dilakukan setelah debit air menurun dan kondisi dinilai aman untuk pelaksanaan konstruksi.
Menurut Roberto, kondisi longsor di ruas jalan Sabuk Merah Sektor Timur terus meningkat dari tahun ke tahun. Hingga kini masih terdapat puluhan titik longsor yang membutuhkan penanganan bertahap.
Meski demikian, pihaknya tetap optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target waktu yang telah ditetapkan dengan tetap mengutamakan kualitas pekerjaan dan keselamatan konstruksi.
“Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat selesai tepat waktu dengan tetap mengedepankan kualitas pekerjaan dan keselamatan konstruksi,” tegasnya.
Penanganan longsor di wilayah Sabuk Merah Sektor Timur menjadi perhatian penting karena ruas jalan tersebut merupakan jalur strategis nasional yang menghubungkan kawasan perbatasan serta menjadi urat nadi transportasi masyarakat di wilayah timur Nusa Tenggara Timur. (Yulius)
