Kupang, Likurai.com – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja (Satker) Operasi dan Pemeliharaan (OP) SDA Nusa Tenggara II terus melakukan berbagai inovasi dalam pengelolaan aset milik negara.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni membangun hanggar alat berat guna mendukung pemeliharaan serta pengamanan aset peralatan operasional di lingkungan BBWS Nusa Tenggara II.
Demikian disampaikan Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Operasi dan Pemeliharaan SDA Nusa Tenggara II, Nahason Haryandja kepada wartawan Likurai.com, Selasa (19/5/2026).
Mantan Kasatker Air Tanah dan Air Baku (ATAB) Nusa Tenggara II ini mengatakan, pembangunan hanggar alat berat tersebut merupakan bagian dari inovasi Satker OP SDA untuk menyimpan dan memelihara alat berat agar tetap dalam kondisi baik dan siap digunakan kapan saja.
Menurutnya, selama ini sejumlah alat berat milik BBWS Nusa Tenggara II belum memiliki tempat penyimpanan yang representatif sehingga berpotensi mengalami kerusakan akibat cuaca maupun faktor lainnya.
Karena itu, pembangunan hanggar menjadi langkah strategis untuk menjaga umur ekonomis alat serta meningkatkan efektivitas operasional di lapangan.
“Hanggar ini dibangun sebagai bentuk inovasi dalam pengelolaan aset. Dengan adanya tempat penyimpanan yang memadai, alat-alat berat dapat terawat dengan baik sehingga mendukung kegiatan operasi dan pemeliharaan sumber daya air,” ujarnya.
Nahason menjelaskan, tahun ini pihaknya membangun hanggar alat berat di Kupang dengan ukuran 20 x 45 meter. Selanjutnya, pihaknya akan mengusulkan pembangunan hanggar serupa di Pulau Sumba dan Flores guna mendukung penataan aset alat berat di wilayah tersebut.
Hanggar mesti dibangun karena aset berupa alat berat milik BBWS Nusa Tenggara II juga ada di Pulau Sumba tepatnya di Kabupaten Sumba Timur serta Pulau Flores tepatnya di Maumere, Kabupaten Sikka.
Karena itu, pihaknya ke depan akan mengusulkan tambahan anggaran untuk pembangunan hanggar serupa di Pulau Sumba maupun Flores guna menunjang penataan aset di daerah tersebut.
“Hal ini dilakukan agar aset milik negara yang nilainya mencapai miliaran rupiah dapat ditata dengan baik, terpelihara, dan memiliki umur layanan yang lebih panjang,” katanya.
Menurutnya, alat berat memiliki peran penting dalam mendukung berbagai pekerjaan operasi dan pemeliharaan infrastruktur sumber daya air, mulai dari normalisasi sungai, penanganan sedimentasi, pemeliharaan bendungan, hingga penanganan kondisi darurat kebencanaan.
Keberadaan hanggar, lanjutnya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan aset negara agar dapat digunakan secara maksimal untuk pelayanan kepada masyarakat.
Ia menambahkan, Satker OP SDA Nusa Tenggara II akan terus melakukan pembenahan dan inovasi dalam pengelolaan aset serta peningkatan sarana pendukung operasional guna menunjang tugas dan fungsi BBWS Nusa Tenggara II di wilayah Nusa Tenggara Timur.
“Harapannya, seluruh aset yang dimiliki dapat terkelola dengan baik, memiliki nilai manfaat yang tinggi, serta mampu mendukung pelayanan infrastruktur sumber daya air yang lebih optimal bagi masyarakat,” pungkasnya. (Yulius)
