Kupang, Likurai.com – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja (Satker) Pemanfaatan Jaringan Sumber Air (PJSA) NT II optimis dapat menyelesaikan pembangunan Pengaman Sungai Haekesak di Kabupaten Belu dan Pengaman Pantai Nangaroro di Kabupaten Nagekeo sesuai target yang telah ditetapkan, yakni pada akhir Desember 2026.
Demikian disampaikan Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pemanfaatan Jaringan Sumber Air (PJSA) Nusa Tenggara II, Yasir Koesnarto kepada wartawan Likurai.com.
Ia mengatakan pada Tahun Anggaran 2026 Satker PJSA Nusa Tenggara II menangani dua kegiatan strategis, yakni satu kegiatan pembangunan pengaman sungai dan satu kegiatan pembangunan pengaman pantai. Kedua proyek tersebut saat ini terus dipacu agar selesai sesuai jadwal kontrak.
"Progres fisik pembangunan Pengaman Sungai Haekesak di Kabupaten Belu telah mencapai lebih dari 50 persen, sedangkan pembangunan Pengaman Pantai Nangaroro di Kabupaten Nagekeo telah mencapai lebih dari 40 persen," ujar Yasir kepada wartawan Likurai.com.
Menurut Yasir, pembangunan Pengaman Sungai Haekesak dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak lebih dari Rp21 miliar. Sementara itu, pembangunan Pengaman Pantai Nangaroro memperoleh alokasi anggaran lebih dari Rp14 miliar yang juga bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.
Ia menjelaskan, kedua proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen BBWS Nusa Tenggara II dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air di Nusa Tenggara Timur. Pembangunan Pengaman Sungai Haekesak bertujuan mengurangi risiko banjir dan gerusan tebing sungai yang dapat mengancam permukiman serta lahan masyarakat. Sementara pembangunan Pengaman Pantai Nangaroro difokuskan untuk mengendalikan abrasi pantai yang berpotensi merusak kawasan pesisir dan fasilitas umum.
Yasir menambahkan, pelaksanaan kedua pekerjaan hingga kini berjalan sesuai rencana. Dengan dukungan seluruh pihak, BBWS Nusa Tenggara II optimistis kedua proyek dapat diselesaikan tepat waktu pada akhir masa kontrak.
"Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat dirampungkan sesuai target pada akhir Desember 2026 dengan tetap mengedepankan kualitas pekerjaan sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang," tegasnya.
Penyelesaian dua proyek tersebut diharapkan semakin memperkuat perlindungan wilayah dari ancaman banjir, gerusan sungai, dan abrasi pantai, sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur sumber daya air yang berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.(Yulius)
