Kupang, Likurai.com – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II telah memprogramkan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi (Rehab Rekon) terhadap sarana dan prasarana infrastruktur sumber daya air (SDA) di wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Program Rehab Rekon tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil identifikasi terhadap kondisi infrastruktur SDA yang telah dilakukan pada masa tanggap darurat setelah gempa bumi mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Kepala Bidang Keterpaduan Infrastruktur Sumber Daya Air (KPI SDA) BBWS Nusa Tenggara II sekaligus Pelaksana Harian (Plh) Kepala BBWS Nusa Tenggara II, Fabian Priandani, mengatakan, kegiatan Rehab Rekon mencakup sejumlah infrastruktur SDA yang terdampak maupun membutuhkan penanganan pascagempa.
Hal tersebut disampaikan Fabian Priandani kepada wartawan Likurai.com, Jumat (25/9/2026).
Ia menjelaskan, ruang lingkup Rehab Rekon meliputi infrastruktur irigasi, infrastruktur sungai dan pantai, infrastruktur air tanah dan air baku, serta bendungan.
“Kita sudah melakukan identifikasi terhadap kondisi infrastruktur sumber daya air di Flores pascagempa bumi Magnitudo 7,7 pada 15 Agustus silam,” ujar Fabian.
Menurutnya, hasil identifikasi yang dilakukan selama masa tanggap darurat menjadi dasar bagi BBWS Nusa Tenggara II untuk menentukan bagian-bagian infrastruktur yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Fabian menegaskan, program Rehab Rekon terhadap bendungan tidak berarti bahwa seluruh bendungan di Flores mengalami kerusakan akibat gempa. Sebaliknya, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi bendungan tetap aman.
“Memang ada juga Rehab Rekon terhadap bendungan, tetapi bukan berarti bendungan mengalami kerusakan. Bendungan sama sekali tidak mengalami kerusakan. Bahkan, tim dari Komisi Keamanan Bendungan sudah turun untuk mengidentifikasi kondisi bendungan dan hasilnya kondisi bendungan aman,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan Komisi Keamanan Bendungan, seluruh bendungan yang diperiksa dinyatakan aman. Meski demikian, BBWS Nusa Tenggara II tetap menyiapkan langkah penguatan melalui penambahan sejumlah instrumen pendukung untuk meningkatkan pemantauan dan keamanan bendungan.
“Komisi Keamanan Bendungan memberikan kesimpulan bahwa semua bendungan aman. Walaupun demikian, kita akan melakukan Rehab Rekon dengan menambah instrumen pendukung,” katanya.
Fabian mengatakan, BBWS Nusa Tenggara II juga telah memprogramkan kegiatan Rehab Rekon di wilayah Flores, mulai dari aspek perencanaan hingga penganggaran. Anggaran untuk kegiatan tersebut telah disiapkan, meskipun saat ini masih bersifat indikatif dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penanganan di lapangan.
“Bagian-bagian infrastruktur SDA yang ada di Flores sudah kita identifikasi, mana saja yang mengalami kerusakan. Semuanya sudah terakumulasi pada masa tanggap darurat,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan penanganan selanjutnya akan dilakukan oleh satuan kerja (Satker) yang berada di lingkungan BBWS Nusa Tenggara II sesuai dengan bidang dan kewenangan masing-masing.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Pulau Palue, Kabupaten Sikka. Menurut Fabian, kebutuhan air baku menjadi salah satu prioritas penanganan di wilayah tersebut.
“Yang menjadi prioritas di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, adalah air baku,” ujarnya.
Selain air baku, BBWS Nusa Tenggara II juga memberikan perhatian terhadap jaringan irigasi yang berada di berbagai wilayah di Flores.
Penanganan jaringan irigasi diarahkan untuk mengembalikan fungsi jaringan sehingga distribusi air kembali berjalan dan dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian masyarakat.
Fabian menegaskan, pemulihan fungsi infrastruktur SDA menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascagempa, terutama infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat dan mendukung aktivitas pertanian.
“Perhatian penting juga terhadap jaringan irigasi yang ada di Flores, dengan mengembalikan fungsi irigasi agar air dapat mengalir ke lahan milik masyarakat,” pungkasnya. (Yulius)
