Kupang,Likurai.com-Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan kepala sekolah tidak boleh hanya berperan sebagai pengelola administrasi sekolah, tetapi harus tampil sebagai pemimpin perubahan yang bertanggung jawab membangun ekosistem pendidikan berkualitas.
Pesan itu disampaikan dr. Christian saat melantik Badan Pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP/MTs Tingkat Kota Kupang Periode 2026–2030 di Aula Hotel Sahid T-More Kupang, Senin (5/10).
Pelantikan tersebut dihadiri Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S.STP., M.Si, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Oktovianus Naitboho, S.Pd., M.Si, serta para kepala sekolah dan guru SMP/MTs se-Kota Kupang.
Di hadapan para kepala sekolah, dr. Christian menegaskan bahwa jabatan bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang selalu datang bersama tanggung jawab. “Kehadiran saya di sini adalah penegasan komitmen bahwa MKKS periode ini harus bergerak dengan keseriusan penuh. Selamat dan proficiat kepada pengurus baru. Ingatlah bahwa amanah selalu berbanding lurus dengan tanggung jawab. Di dunia ini, tidak pernah ada rumus di mana jabatan meninggi, namun tanggung jawab mengecil,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus MKKS periode sebelumnya atas dedikasi dan pengabdiannya, serta kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang telah memfasilitasi pelantikan tersebut.
Menurut Wali Kota, MKKS tidak boleh berhenti sebagai forum administratif atau sekadar wadah pertemuan para kepala sekolah. MKKS harus menjadi ruang untuk bertukar gagasan, berbagi pengalaman, mengidentifikasi persoalan, dan merumuskan solusi pendidikan.
Berbagai persoalan yang muncul di sekolah, kata dia, perlu dibicarakan secara terbuka agar dapat menjadi masukan bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan maupun Pemerintah Kota Kupang dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
“MKKS harus menjadi wadah aktif bagi para kepala sekolah untuk bertukar pikiran dan menyampaikan persoalan pendidikan di lapangan. Kepala sekolah merupakan ujung tombak pemerintah dalam menghadirkan pelayanan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.
Ia mengingatkan, kewenangan yang dimiliki kepala sekolah harus dipandang sebagai instrumen pelayanan kepada peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat. Pesan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan prinsip pemerintahan yang diusungnya, yakni “To Govern Is To Serve”, Memerintah adalah Melayani. “Setiap kewenangan harus dimaknai sebagai sarana untuk melayani dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,” katanya.
Lebih jauh, Wali Kota menekankan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya dapat dilihat dari pembangunan infrastruktur, jalan, maupun gedung-gedung yang megah. Menurutnya, ukuran yang lebih fundamental adalah kualitas manusia yang dihasilkan dari proses pembangunan tersebut.
Karena itu, kepala sekolah diminta mengambil tanggung jawab penuh terhadap ekosistem pendidikan di sekolah masing-masing. Ia mengingatkan agar kepala sekolah tidak membangun budaya saling menyalahkan ketika muncul persoalan di lingkungan sekolah. “Tidak boleh saling menyalahkan. Khusus kepala sekolah negeri, kalau ada masalah di sekolahnya, kalian yang harus bertanggung jawab karena kalian pemimpin di wilayah situ,” tegasnya. Ia kemudian menyampaikan prinsip kepemimpinan yang menurutnya penting diterapkan para kepala sekolah, “Good leader never plays the blame game.”
“Pemimpin yang baik tidak mencari kambing hitam. Pemimpin yang baik melakukan evaluasi, memperbaiki sistem, dan memastikan persoalan tidak terulang kembali,” lanjutnya.
Menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks, dr. Christian juga meminta para kepala sekolah untuk tidak terjebak dalam pola lama. Sekolah, katanya, harus mampu beradaptasi dan terus mencari cara baru untuk mendidik serta membina peserta didik. “Kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda jika terus melakukan cara yang sama,” ujarnya.
Ia mengutip ungkapan yang populer dalam konteks perubahan untuk menegaskan pentingnya inovasi. Menurutnya, pendidikan membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi cara-cara lama dan mencoba pendekatan yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Baginya, tugas sekolah bukan hanya membuat anak-anak memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi juga menjaga agar mimpi dan cita-cita mereka tetap hidup. Sebab, dari ruang-ruang kelas di Kota Kupang, kelak akan lahir generasi yang menjadi ilmuwan, dokter, pengusaha, profesional, hingga pemimpin masa depan.
“Sekolah harus mampu menghadirkan cara-cara baru dalam mendidik dan membina peserta didik. Tugas kita bukan hanya mendorong anak-anak memiliki mimpi besar, tetapi juga menjaga agar mimpi itu tetap hidup dan terus mereka perjuangkan ketika bertumbuh dewasa,” katanya.
Badan Pengurus MKKS SMP/MTs Tingkat Kota Kupang Periode 2026–2030 diketuai Otniel Te Lena, S.Pd. MKKS menjadi wadah komunikasi, koordinasi, dan konsultasi kepala SMP/MTs negeri maupun swasta se-Kota Kupang. Forum ini juga diarahkan untuk meningkatkan kompetensi manajerial, supervisi, dan kewirausahaan kepala sekolah.
Selain itu, MKKS berperan membantu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang dalam menyosialisasikan kebijakan pendidikan, termasuk implementasi kurikulum, program sekolah ramah anak, serta penguatan Kota Layak Anak. Ke depan, MKKS juga akan mendorong berbagai program peningkatan mutu pendidikan, antara lain melalui workshop, seminar, studi tiru, dan kegiatan pengembangan kapasitas lainnya. (*/Yuser)
