Undana Dampingi Kelompok Wini Ray Olah Kelor Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Sabu Raijua - Baomong.ID

Undana Dampingi Kelompok Wini Ray Olah Kelor Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Sabu Raijua

Undana Dampingi Kelompok Wini Ray Olah Kelor Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Sabu Raijua

Sabu Raijua, Likurai.com – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi sumber daya lokal. 

Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan diversifikasi pengolahan daun kelor menjadi teh, tepung kelor, dan bahan baku berbagai produk pangan yang memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan pada Jumat, 16 Oktober 2026, tersebut melibatkan Kelompok Wini Ray yang diketuai Agustina Djote Koroh. 

Melalui kegiatan ini, anggota kelompok mendapatkan pengetahuan dan pengalaman praktik mengenai pengolahan kelor yang berpotensi dikembangkan sebagai usaha produktif berbasis rumah tangga.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian Undana–Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2026, yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal secara produktif dan berkelanjutan.

Tim pelaksana kegiatan diketuai Chrispy Theresia Pratiwi Daud, S.AB., M.M., dengan anggota Ir. Patricia Sonia Amalo, S.T., M.T., IPP., dan Ni Luh Putu Ravi Cakswindryandani, S.TP., M.Si. Materi kegiatan disampaikan oleh Dyah Wahyu Nastiti, S.E., M.Sc., dengan Jenny Ermalinda, S.H., bertindak sebagai moderator.

Selama ini, masyarakat setempat umumnya memanfaatkan daun kelor sebagai sayuran untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. 

Meskipun sebagian anggota kelompok telah memperoleh informasi mengenai pemanfaatan kelor sebagai bahan pembuatan kue dan makanan olahan lainnya, mereka belum banyak mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung proses pengolahannya menjadi bahan baku yang dapat digunakan untuk berbagai produk.

Melihat potensi tersebut, tim pengabdian Undana memperkenalkan cara pengolahan kelor yang relatif sederhana dan dapat dikembangkan sesuai kemampuan masyarakat. 

Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai manfaat diversifikasi produk, tetapi juga mengikuti praktik pembuatan teh kelor serta pengolahan daun kelor menjadi tepung.

Dalam kegiatan tersebut, tepung kelor diperkenalkan sebagai salah satu bahan baku alternatif untuk mengembangkan aneka makanan olahan. Dengan pengolahan yang tepat, pemanfaatan daun kelor diharapkan tidak lagi terbatas pada konsumsi sebagai sayuran segar, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki bentuk, kegunaan, dan nilai jual yang lebih beragam.

Tim juga memperkenalkan contoh produk berupa teh kelor dalam kemasan dan tepung kelor. Kehadiran produk contoh tersebut memberikan gambaran kepada anggota Kelompok Wini Ray mengenai peluang pengembangan hasil olahan kelor menjadi produk yang dapat dipasarkan kepada masyarakat.

Selain keterampilan teknis, kegiatan ini turut membuka wawasan peserta mengenai pentingnya menjaga kebersihan selama proses produksi, memilih bahan baku yang baik, mempertahankan mutu produk, serta menggunakan kemasan yang menarik dan informatif. 

Aspek-aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan produk agar lebih mudah diterima konsumen dan memiliki daya saing di pasaran.

Pengolahan kelor menjadi produk turunan juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal. 

Apabila dikelola secara konsisten, keterampilan tersebut dapat menjadi modal awal bagi kelompok untuk merintis usaha, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta membuka peluang pendapatan tambahan bagi keluarga.

Namun, pengembangan usaha berbasis kelor membutuhkan proses yang berkelanjutan. 

Selain keterampilan produksi, masyarakat perlu memperhatikan konsistensi mutu, pengemasan, penyimpanan, penentuan harga, dan strategi pemasaran. 

Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang berkesinambungan.

Kegiatan pengabdian ini juga mendukung pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). 

Kontribusi terhadap SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) diwujudkan melalui penguatan keterampilan produktif yang berpotensi membuka peluang pendapatan tambahan bagi rumah tangga. 

Sementara itu, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) berkaitan dengan upaya mendorong diversifikasi pangan melalui pemanfaatan komoditas lokal sebagai bahan berbagai produk olahan.

Selanjutnya, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) tercermin dalam pengembangan keterampilan kewirausahaan dan peluang usaha berbasis potensi daerah. 

Adapun SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) didukung melalui pengolahan bahan lokal menjadi produk bernilai tambah dengan memperhatikan mutu proses, pemanfaatan bahan baku, penyimpanan, dan pengemasan yang sesuai.

Antusiasme anggota Kelompok Wini Ray selama mengikuti kegiatan menunjukkan adanya ketertarikan untuk mengembangkan pemanfaatan kelor ke arah yang lebih produktif. 

Pengetahuan dan pengalaman praktik yang diperoleh diharapkan menjadi bekal awal bagi kelompok untuk mencoba pengolahan secara mandiri, menyempurnakan produk, serta menjajaki peluang pemasaran sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat setempat.

Melalui pendampingan tersebut, Undana diharapkan terus berkontribusi dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengelola potensi lokal menjadi sumber kegiatan ekonomi yang produktif. 

Diversifikasi pengolahan kelor di Kabupaten Sabu Raijua menjadi salah satu langkah untuk menghubungkan potensi sumber daya daerah, peningkatan keterampilan masyarakat, dan peluang pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Dengan pemanfaatan yang semakin beragam, kelor tidak hanya menjadi bahan pangan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas yang memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat Sabu Raijua.

(*/Yulius)