Jakarta,Likurai.com-Wartawan Kompas.com wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sigiranus Marutho Bere atau yang akrab disapa Giran Bere, meraih juara kedua dalam Lomba Jurnalistik Sekolah Rakyat 2026 yang diselenggarakan Kementerian Sosial.
Giran meraih penghargaan tersebut melalui karya jurnalistik berjudul Memutus Rantai Kemiskinan Ekstrem dari Tanah Karang.
Karya itu mengangkat upaya memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Prestasi ini menjadi pencapaian tersendiri bagi Giran yang telah lebih dari 10 kali meraih lomba jurnalistik tingkat nasional yang digelar berbagai instansi pemeritahan dan BUMN.
Dalam kompetisi tersebut, Giran bersaing dengan 108 wartawan dari berbagai media dan daerah di Indonesia.
Karyanya dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari wartawan senior Harian Kompas Aloysius Budi Kurniawan, wartawan CNN Indonesia Iman C Nugroho, serta sejumlah pejabat dan tenaga ahli di bidang komunikasi pemerintahan.
Dewan juri lainnya adalah Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa Fatkhurohman Taufik, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Sosial Devi Deliani, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Media dan Komunikasi Publik Galih Hidayatullah, serta Tenaga Ahli Bidang Komunikasi Direktur Jenderal KPM Kementerian Komunikasi dan Digital, Latief Siregar.
Adapun juara pertama diraih Mohammad Iqbal Shukri dari Tribun Jawa Tengah melalui karya berjudul Menjemput Masa Depan yang Hampir Hilang.
Juara ketiga diraih Dini Suciatiningrum dari IDN Times dengan karya Memuliakan yang Tak Terlihat, Kisah Haru Nenah di Sekolah Rakyat.
Sementara itu, juara harapan pertama diraih Stefy Thenu dari Viva Jogja melalui karya Ikhtiar Memupus Kebodohan, Jalan Memutus Rantai Kemiskinan.
Juara harapan kedua diraih Vina Oktavia dari Kompas.id dengan karya Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak-anak dari Keluarga Kurang Mampu "Naik Kelas".
Adapun juara harapan ketiga diraih Erwin Prasetio dari Sinar Perbatasan melalui karya Sekolah Rakyat Memuliakan, Menyalakan Kembali Mimpi Anak-anak Perbatasan.
Penghargaan kepada para pemenang diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam acara yang berlangsung di Aula Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (17/10/2026) malam.
Para pemenang menerima penghargaan berupa piala, piagam, dan uang tunai.
Giran mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Menurut dia, penghargaan itu menjadi penyemangat untuk terus menghasilkan karya jurnalistik yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Puji Tuhan. Terima kasih Tuhan, terima kasih kepada keluarga dan seluruh rekan-rekan media yang selama ini telah mendukung saya dalam berkarya," kata Giran.
Dia berharap pencapaiannya dapat memotivasi wartawan lain di NTT untuk lebih aktif mengikuti kompetisi jurnalistik tingkat nasional.
Menurut Giran, kompetisi jurnalistik tidak semata-mata menjadi ajang untuk meraih penghargaan, tetapi juga kesempatan bagi wartawan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan mempelajari pendekatan baru dalam menghasilkan karya jurnalistik berkualitas.
Dia juga berharap semakin banyak karya wartawan dari NTT yang mengangkat persoalan masyarakat di wilayah perbatasan, kepulauan, dan daerah terpencil agar mendapat perhatian lebih luas di tingkat nasional.
Menteri Sosial Minta Wartawan Tetap Kritis
Dalam sambutannya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa pers memiliki peran penting dalam mengawal pelaksanaan program pemerintah, terutama yang berkaitan dengan perlindungan dan kesejahteraan masyarakat.
Dia meminta wartawan tidak hanya memberitakan keberhasilan pemerintah, tetapi juga menyampaikan kritik ketika terdapat kebijakan atau pelaksanaan program yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Bagi kami, wartawan bukan sekadar menyampaikan berita. Wartawan adalah mata yang membantu melihat mereka yang terabaikan, telinga yang mendengar mereka yang tak terdengar, dan suara bagi mereka yang selama ini tak bersuara," kata Gus Ipul.
Menurut dia, pekerjaan Kementerian Sosial berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, sehingga penanganan persoalan sosial tidak boleh hanya berorientasi pada angka, anggaran, dan kegiatan administratif.
Dia menyebut terdapat 12 kelompok pemerlu atensi sosial atau 12 PAS yang menjadi perhatian, mulai dari anak-anak rentan, penyandang disabilitas, lanjut usia telantar, korban bencana, hingga fakir miskin.
"Di balik setiap angka ada manusia, di balik setiap manusia ada cerita, dan di balik setiap cerita ada harapan yang harus kita jaga," ujarnya.
Gus Ipul mengatakan, tanggung jawab negara dalam melindungi masyarakat yang membutuhkan pertolongan juga memiliki landasan konstitusional, sebagaimana tercantum dalam Pasal 34 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.
Karena itu, menurut dia, pemerintah harus terus memperbaiki sistem perlindungan sosial, termasuk memastikan data penerima bantuan akurat dan program yang dijalankan tepat sasaran.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Sosial terus memperkuat fondasi perlindungan sosial melalui pembenahan data dan penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Gus Ipul mengingatkan, kesalahan pendataan dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama ketika warga miskin yang berhak menerima bantuan justru tidak terjangkau oleh program pemerintah.
"Kesalahan data bukan sekadar kesalahan administrasi. Kesalahan data bisa berarti ada orang miskin yang kehilangan haknya, ada keluarga yang membutuhkan tetapi belum terjangkau negara," jelasnya.
Gus Ipul juga menyoroti keberadaan Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya pemerintah membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Melalui program tersebut, pemerintah berupaya memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga miskin untuk memperoleh pendidikan yang layak dan memiliki peluang memperbaiki kehidupan mereka pada masa depan.
Dia menyebut, saat ini terdapat 182 titik Sekolah Rakyat di Indonesia.
Menurut Gus Ipul, keberhasilan program seperti Sekolah Rakyat membutuhkan pengawasan publik, termasuk dari insan pers, agar pelaksanaannya tetap berada di jalur yang benar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Dalam seluruh ikhtiar ini, kami membutuhkan pers yang merdeka, kritis, dan bertanggung jawab. Kami tidak meminta wartawan hanya menulis keberhasilan. Kritiklah jika ada yang keliru, ingatkan kami jika ada yang tertinggal," kata Gus Ipul.
Dia menilai, pemberitaan yang kritis dan berimbang menjadi bagian penting dalam memperbaiki kebijakan serta memastikan program pemerintah menjawab kebutuhan masyarakat.
"Pujian akan membuat kita bersemangat, tetapi kritik yang jujur membuat kita tetap berada di jalan yang benar," ujarnya.
Gus Ipul menegaskan, Anugerah Jurnalistik Sekolah Rakyat bukan sekadar ajang pemberian penghargaan, melainkan bentuk penghormatan kepada wartawan yang konsisten mengungkap fakta, menulis dengan nurani, dan menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dari kerja jurnalistik.
Dia berharap penghargaan tersebut mendorong para wartawan untuk terus menghasilkan karya yang berkualitas, kritis, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
"Kepada para pemenang, saya menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya. Semoga penghargaan ini menjadi penambah semangat untuk terus menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, kritis, dan berpihak kepada kemanusiaan," ucapnya.
Sementara itu, kepada peserta yang belum meraih penghargaan, Gus Ipul mengingatkan bahwa nilai kerja jurnalistik tidak hanya ditentukan oleh piala atau peringkat dalam sebuah kompetisi.
Dedikasi wartawan, menurut dia, juga tercermin dari keberanian memperjuangkan kebenaran, menggerakkan nurani, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui karya-karya jurnalistiknya. (*)
