Kupang ,Likurai.com-Upaya meningkatkan produktivitas dan pendapatan pembudidaya rumput laut di Desa Pantulan, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus dilakukan melalui penguatan kapasitas masyarakat.
Puluhan warga desa setempat mengikuti penyuluhan penanggulangan penyakit rumput laut serta pelatihan pengolahan rumput laut menjadi produk pangan bernilai tambah dan pemasaran digital.
Kegiatan yang berlangsung di rumah Kepala Dusun I Desa Pantulan, Otniel Yohanis Lusi, pada Selasa (27/10/2026) tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Program Pengabdian Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Dusun I Desa Pantulan, Otniel Yohanis Lusi. Sementara itu, tim pelaksana dari Politeknik Negeri Kupang (PNK) terdiri atas Robinson A. Wadu selaku ketua tim, bersama Selfesina Samadara dan Amros Alfonsius Tuati.
Dalam kegiatan tersebut, tim menghadirkan dua pemateri dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, yakni Maria Susana Medho, SP,MP dan Sri Imelda Edo, S.Pd.,M.Pd, untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat.
Program ini melibatkan dua kelompok mitra dengan karakteristik berbeda, yakni Kelompok Harapan sebagai kelompok masyarakat produktif secara ekonomi dan Kelompok Perempuan Suka Maju sebagai kelompok masyarakat yang belum produktif secara ekonomi.
Keduanya berada di Desa Pantulan dan menjadi sasaran pemberdayaan melalui pengembangan potensi rumput laut.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Penguatan Ekonomi Pesisir dan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Melalui Teknologi Pascapanen Rumput Laut, Diversifikasi Produk, Pemasaran Digital dan Ekowisata di Desa Pantulan, Kabupaten Kupang.”
Ketua Tim Pelaksana Program Kosabangsa dari Politeknik Negeri Kupang, Robinson A. Wadu, menjelaskan bahwa penyuluhan dan pelatihan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan PNK sebagai perguruan tinggi pelaksana, dengan dukungan tim pendamping dari Universitas Brawijaya, Malang.
Menurut Robinson, pelaksanaan Program Kosabangsa tahun 2026 didanai melalui hibah Kemendiktisaintek Republik Indonesia.
Sebelum kegiatan pelatihan dilaksanakan, tim pelaksana juga telah melakukan sosialisasi program secara menyeluruh kepada kelompok mitra.
Ia menjelaskan, kegiatan pemberdayaan tidak berhenti pada penyuluhan dan pelatihan. Dalam tahapan berikutnya, tim akan menyalurkan bantuan berupa peralatan dan bahan untuk mendukung kegiatan budidaya rumput laut, termasuk mesin pengering rumput laut bagi kedua kelompok mitra.
Selain bantuan peralatan, masyarakat juga akan mendapatkan pendampingan lanjutan bersama tim dari Universitas Brawijaya, khususnya terkait pemanfaatan teknologi, pengoperasian mesin, teknik pengemasan, serta pengembangan produk olahan rumput laut.
Robinson menambahkan, bersama para pemateri dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, tim juga akan memberikan pelatihan diversifikasi produk berbahan dasar rumput laut.
Sejumlah produk yang direncanakan untuk dikembangkan antara lain mi rumput laut, bakso rumput laut, agar-agar, hingga cendol rumput laut.
Salah satu inovasi teknologi yang ditawarkan dalam program ini juga adalah penggunaan alat pengering rumput laut berbasis Solar Dryer Tunnel.
Teknologi tersebut memanfaatkan energi panas matahari secara optimal yang dikombinasikan dengan blower untuk mendistribusikan panas secara merata sehingga mendukung proses pengeringan rumput laut.
Penerapan teknologi pascapanen ini diharapkan dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas hasil produksi, memperbaiki proses pengolahan, serta memberikan nilai tambah terhadap komoditas rumput laut yang selama ini menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat pesisir Desa Pantulan.
Sementara itu, Kepala Dusun I Desa Pantulan, Otniel Yohanis Lusi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim dosen Politeknik Negeri Kupang yang telah memilih Desa Pantulan sebagai lokasi pelaksanaan Program Kosabangsa.
Menurutnya, materi penyuluhan dan pelatihan yang diberikan oleh para dosen PNK dan Politeknik Pertanian Negeri Kupang merupakan pengetahuan baru bagi masyarakat setempat. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan keterampilan dan perekonomian warga.
Otniel juga berharap kolaborasi antara Politeknik Negeri Kupang dan masyarakat Desa Pantulan dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang melalui berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Ia menilai, kehadiran perguruan tinggi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dunia akademik dalam membantu menjawab berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat desa, khususnya di wilayah pesisir. (*/Yuser)
